Ada Kalanya Musuh dan Lawan Harus Kita Hormati

Ada Kalanya Musuh dan Lawan Harus Kita Hormati

Oleh Prabowo Subianto [diambil dari Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto] 

“Saya seorang prajurit. Saya bisa memimpin operasi tempur. Kita harus selalu siap bertempur. Tetapi saya berkeyakinan, jalan terbaik adalah yang tanpa kekerasan. Jalan terbaik penyelesaian konflik adalah menghindari perang.

Saya selalu berpendapat bahwa lawan itu adalah pendekar juga. Lawan itu harus kita hormati. Kita boleh berseberangan, tapi kita harus selalu berkomunikasi. Kita harus mencari jalan keluar dari setiap pertikaian.”

Saudara saudara sekalian, pelajaran nenek moyang kita mengajarkan ‘menang tanpo ngasorake’. Kemenangan yang terbaik adalah kemenangan tanpa menimbulkan sakit hati, kebencian, atau rasa dendam. Bagaimana cara mencapai itu?

Ada lagi ajaran nenek moyang kita, iso rumongso, ojo rumongso iso. Jangan merasa kau bisa semua, tapi kau harus bisa merasakan pihak orang lain, merasakan kesulitan mereka, merasakan penderitaan mereka seperti kamu bisa merasakan penderitaan anak buahmu dan kesulitan anak buahmu.

Saya sampai sekarang tidak pernah lupa pernah dengan komandan sektor saya di Timor Timur yaitu Letkol Sahala Rajagukguk. Waktu itu beliau komandan sektor tengah. Pada saat saya pertama bertemu setelah ditempatkan di bawah komando beliau, beliau memberi saya sasaran. “Prabowo kamu harus sampai koordinat ini.”

Saya pelajari peta di depan dia, dan dia bertanya, “Berapa lama kau untuk sampai koordinat ini?” Saya bilang, “Besok pagi saya bisa sampai.” Saya kaget waktu beliau katakan, “Prabowo, jangan paksakan anak buahmu. Saya kasih kamu dua malam. Lusa pagi kamu sampai.”

Hati saya merasa seperti di beri kesejukan yang luar biasa. Komandan ini kok merasakan capeknya kami. Merasakan beban ranselnya kami. Merasakan betapa beratnya naik dan turun gunung. 1 KM di lapangan di daerah operasi seperti Timor Timur tidak seperti 1 KM di daerah Magelang. Akhirnya saya jawab, “Siap!” Saya tidak bisa lupa, itulah komandan yang punya empati terhadap anak buah, komandan yang bisa merasakan.

Dalam karier saya, saya laksanakan operasi pertama saya sebagai Letnan Dua waktu itu di Timor Timur. Saya masuk dalam Nanggala 10 yang dipimpin Mayor Inf. Yunus Yosfiah.

Tugas pertama saya adalah sebagai perwira intelijen. Kebetulan, saya memang punya minat tentang perang sejak kecil. Saya baca tentang perang, saya belajar tentang perang di SMA dan di Akademi militer. Saya baca tentang perang di Malaya menghadapi pemberontak komunis. Saya pelajari perang Vietnam, saya pelajari perang gerilya Spanyol melawan Napoleon. Kemudian saya belajar teknik-teknik perang gerilya dan anti gerilya. Saya dengar cerita komandan-komandan kita, panglima-panglima kita ikut perang melawan Belanda dan melawan Inggris. Sehingga dari awal sebagai Letnan Dua, saya memiliki sesuatu pandangan-pandangan tentang perang gerilya dan anti-gerilya yang akhirnya saya coba terapkan.

Juga saya pernah cerita pada buku Kepemimpinan Militer yang pertama, bagaimana saya jumpa dengan seorang kapten bernama Hendropriyono. Beliau banyak membimbing saya, mengajarkan saya dalam teknik-teknik perang gerilya, teknik-teknik intelijen, teknik-teknik kontra intelijen, dan operasi clandestine.

Dari hasil belajar saya sendiri, dari studi kasus yang saya baca, bagaimana di Malaya, bagaimana di Vietnam, bagaimana di Spanyol, di Aljazair, dan di Indonesia sendiri, ditambah ilmu-ilmu yang saya dapat dari senior-senior seperti Pak Hendropriyono, akhirnya saya uji coba teknik-teknik itu waktu saya menjadi perwira intelijen pak Yunus.

Kemudian saat saya menjadi Wakil Komandan Unit C di Tim Nanggala 10, dan karena beberapa perwira ada yang gugur dan luka saya diangkat menjadi Komandan unit, dan saya beroperasi, banyak pengalaman-pengalaman yang didapatkan, pengalaman dari kesalahan-kesalahan saya, tapi itulah modal saya untuk belajar perang tidak hanya dari buku tapi juga dari praktik di lapangan.

Dari pengalaman-pengalaman saya, saya berpendapat bahwa tawanan kalau kita tangkap tidak boleh kita sakiti. Tawanan tidak boleh kita siksa, karena dari kesaksian tawanan itu kita bisa dapat keterangan yang bermanfaat untuk operasi kita.

Saya juga berkesimpulan bahwa dukungan rakyat adalah sangat vital. Benar pelajaran Mao, pelajaran Nasution, bahwa “prajurit adalah ikan, rakyat adalah air laut.” Tanpa rakyat, prajurit mati. Karena itu, kita harus rebut hati rakyat. Setiap pasukan yang tidak mengerti ini akan gagal dalam perang gerilya dan perang anti gerilya.

Dalam upaya pihak-pihak asing untuk menjelek-jelekkan TNI, sering disebutkan fitnah bahwa TNI melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM yang sangat besar di Timor Timur. Fitnah-fitnah itu tidaklah benar. Bahwa ada pelanggaran di sana-sini, tetapi tidak ada pelanggaran yang direncanakan atau diperintah oleh satuan atas.

Tidak mungkin operasi perang gerilya dan perang anti-gerilya akan berhasil tanpa dukungan rakyat. Dan harus di akui, di Timor Timur, setelah sekian puluh tahun sebetulnya Fretilin itu kalah perang dengan kita. Namun akhirnya mereka dimenangkan oleh manuver politik yang didukung oleh negara-negara besar.

Pengalaman-pengalaman saya membuat saya memiliki pendekatan dan teknik-teknik perang yang saya yakini. Pertama, TNI harus merebut hati rakyat. Kalau tidak bisa merebut hati rakyat, minimal jangan sakiti hati rakyat. Sama sekali tidak boleh sakiti hati rakyat. Dan TNI sadar itu, karena TNI punya pengalaman mengatasi RMS, DI/TII, Permesta, dan seterusnya.

Akhirnya kita memiliki delapan wajib ABRI, yang akhirnya menjadi delapan wajib TNI, yang berbunyi:

  1. Bersikap ramah-tamah terhadap rakyat.
  2. Bersikap sopan santun terhadap rakyat.
  3. Menjunjung tinggi kehormatan wanita.
  4. Menjaga kehormatan diri di muka umum.
  5. Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya.
  6. Tidak sekali-kali merugikan rakyat.
  7. Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat.
  8. Menjadi contoh dan memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya.

Dan TNI dari awal selalu mengatakan bahwa adalah tentara rakyat, tentara nasional, dan tentara pejuang. TNI juga menganut sistem peperangan HANKAMRATA, pertahanan rakyat semesta yang dulu tahun 50-an disebut oleh senior-senior kita sebagai PERATA, perang rakyat semesta.

Kemudian, daripada itu, saya selalu berpendapat bahwa lawan itu adalah pendekar juga. Lawan itu harus kita hormati. Saya belajar ini dari kisah-kisah yang saya dengar, kisah-kisah dari Mahabarata, kisah-kisah Kresna dan Arjuna, kisah-kisah Pandawa, bahwa Pandawa dan Kurawa sebenarnya adalah saudara, dan di Kurawa ada yang bersifat pendekar, yang bersifat pahlawan.

Saya juga belajar hal ini dari sejarah. Dalam sejarahnya Salahudin al Ayyubi, yang begitu dihormati oleh negara-negara Barat termasuk di kerajaan-kerajaan Kristen Barat, kisah yang diceritakan turun temurun bahwa Salahudin al Ayyubi pernah dari suatu bukit melihat Raja Richard dari Inggris yang dikenal dengan nama Richard the Lionheart terjatuh dari kudanya dan hendak dikepung oleh 50 tentara Salahudin.

Salahudin mengirimkan kurir untuk memerintahkan 50 prajuritnya untuk tidak membunuh Richard the Lionheart. Bahkan ia perintahkan untuk mundur. Ia juga mengirim adiknya sendiri membawa kuda, dan kuda itu diserahkan ke Richard the Lionheart karena Salahudin al Ayyubi berpendapat tidak pantas seorang raja, seorang panglima perang, walaupun lawan, tidak pantas dia mati tidak di atas kuda.

Inilah yang menjiwai hidup saya sebagai anak muda, cerita-cerita tentang pahlawan-pahlawan di mana-mana, bahkan Zorro dari Meksiko, Pancho Villa, Emiliano Zapata, sehingga dalam visuallisasi saya, kalau saya beroperasi dalam sebuah perang saya harus berperan sebagai seorang ksatria, sebagai seorang Pandawa.

Semua musuh yang saya tawan, saya perlakukan dengan baik. Saya pernah pada suatu peristiwa di daerah di sebelah barat dari sungai Viqueque, barat dari Kraras, kita beroperasi di daerah pegunungan Bibileo.

Dalam operasi tersebut komandan Peleton saya yang paling hebat, yang paling saya sayang yaitu Letnan Dua Siprianus Gebo, orang dari Ende, angkatan 1985, dengan gagah berani menginvasi garis musuh, merayap di depan, menyerang dan menimbulkan banyak korban namun akhirnya tertembak dan gugur.

Pasukan saya mengejar kelompok gerilya musuh yang menembak Siprianus Gebo, dan setelah tiga hari berhasil menangkap komandannya. Komandannya ditangkap dalam keadaan luka. Pasukan saya berhasil menjejakinya karena banyak darah. Kemudian ia diangkat ke pos komando saya, di atas bukit. Digotong. Saya perintahkan jangan dibunuh, dibawa ke saya.

Waktu itu dia terletak di bawah saya. Dalam keadaan luka-luka, berdarah, tapi masih hidup. Saya ajak bicara. Waktu itu saya masih bisa bahasa Tetun sederhana. Saya tanya dalam bahasa Tetun, “Hakarak mate, ka hakarak moris?”

Artinya, “Kamu mau hidup, atau kamu mau mati?”

Saat itu, tentunya saya masih merasa pedih kehilangan seorang Komandan Peleton saya yang paling saya sayangi, seorang jago tembak, seorang juara maraton, seorang dari Flores yang selalu senyum dan tidak pernah susah. Itulah Siprianus Gebo.

Saya tanya lagi, “Hakarak mate, ka hakarak moris?”

Di luar dugaan saya, dia jawab, “Mate bele, moris mos bele”.

Mati boleh, hidup juga boleh. Dia tidak mengemis untuk hidup. Dia tidak merengek minta ampun. Dalam hati saya, walaupun dia setengah telanjang dan penuh luka, rambutnya panjang karena sudah bergerilya berbulan-bulan, badannya bau bukan main, namun pada saat itu ada suara dalam hati saya yang mengatakan, “Kau ini Pendekar. Kau ini prajurit. Kau ini Patriot bagi perjuanganmu.”

Suara itu mengatakan di hati saya, “Ini lawan yang tangguh. Ini orang harus saya hormati.”

Langsung saya perintahkan ke pasukan saya, “Panggil helikopter, saya minta orang ini dikirim ke rumah sakit, diobati, diselamatkan. Dia seorang lawan yang tangguh.”

Akhirnya ia dibawa memakai helikopter, dikirim ke Dili, dan diserahkan ke rumah sakit. Saya setelah itu saya lanjut beroperasi terus selama beberapa bulan, sesungguhnya saya ingin mengetahui apakah orang itu akhirnya masih hidup atau tidak.

Alangkah indahnya kalau misalkan saya masih bisa ketemu dia. Saya ingin mengatakan, “Walaupun saya bisa membunuh kamu pada waktu itu, tapi karena jawabanmu gagah, jawabanmu berani, jawabanmu jawaban seorang ksatria, kau tidak merengek, kau tidak minta ampun, kau tidak minta selamat, kau bilang hidup bisa, mati pun bisa, saya putuskan kamu hidup. Saya ingin selamatkan kamu.”

Saudara-saudara, itulah apa yang saya alami. Dalam perjalanan saya tidak pernah benci dengan lawan saya, apakah di Timor Timur, apakah di Papua, apakah di Aceh. Saya menjalankan tugas sebagaimana mereka pun juga menjalankan tugas.

Cerita kedua yang ingin saya ceritakan, suatu saat, pada tahun

2013, saya kedatangan junior saya waktu itu beliau sudah pensiun, Mayor Jenderal TNI Chairawan Nusyirwan. Chairawan pernah bertugas di Aceh. Ia menyampaikan ke saya, “Minta waktu, pak, ada Muzakir Manaf ingin bertemu bapak.”

Muzakir Manaf? Saya tanya dalam hati saya. Saya pernah operasi sebentar di Aceh, tapi saya tidak pernah lama di Aceh. Tapi saya tahu Muzakir Manaf sempat menjadi panglima tentara Aceh Merdeka untuk waktu yang cukup lama. Saya tanya ke Chairawan,

“Kenapa ia mau ketemu saya? Ia kan panglima musuh kita GAM?”

“Iya pak, tapi ia ingin ketemu bapak.”

“Ya sudah saya pikirkan.”

Saya kira cukup lama saya tidak memberi jawaban. Kurang lebih tiga bulan kemudian, Chairawan bertanya lagi, “Pak bagaimana dengan Muzakir Manaf? Dia ada di Jakarta. Ingin bertemu dengan bapak.” Saya sampaikan, “Chairawan, dia kan musuh kita? Dia kan panglima nya musuh? Dia kan pernah banyak bunuh anak buah kita di KOPASSUS? Kita juga banyak membunuh mereka. Apa yang harus kita bicarakan?”

“Saya tidak tahu pak, tapi dia mau bertemu bapak.”

“Dia ada di mana? Ada di Jakarta? Ya sudah, besok malam saja 07.00 malam bawa ke tempat saya.”

Waktu itu saya terima di lapangan polo berkuda di Jagorawi yang saya kelola. Waktu itu hobi saya memang polo berkuda, dan aktif main polo berkuda. Saya sudah berada di lapangan polo berkuda dari 06.30 sore. Sekitar 07.00 tepat mereka datang. Selama 30 menit saya bertanya dalam hati, apa yang harus saya bicarakan?

Tahu-tahu jam 07.00 malam, mereka tiba termasuk Chairawan dan di belakangnya ada seorang laki-laki gagah, berjenggot. Memang tampangnya seperti seorang panglima gerilya.

Saya berdiri, saya berjalan ke arah dia, dia mendekati saya. Tidak ada satu kata pun kita sebut. Tiba-tiba, hampir bersamaan dia rangkul saya, dan saya rangkul dia. Dua Panglima berseberangan, sekian puluh tahun berperang, begitu bertemu tidak ada satu kata pun yang keluar. Saya peluk dia, dia peluk saya.

Dan dalam pertemuan selanjutnya ternyata dia mengatakan bahwa dia ingin bergabung dengan Partai GERINDRA. Dalam beberapa pertemuan itu saya bicara dengannya, “Janganlah kamu bergabung dengan Partai GERINDRA.”

Ia katakan, “Di tingkat Aceh, Partai Aceh menjadi partai lokal. Tapi di tingkat nasional, ingin bergabung dengan Partai GERINDRA.”

Saya sampaikan, “Janganlah pak Muzakir, sekarang kan bapak teman dan sahabat saya. Dulu kita pernah berseberangan, sekarang kamu sahabat saya. Sekarang Anda sekutu saya. Janganlah kau masuk GERINDRA, karena kalau kamu masuk GERINDRA, kamu jadi anak buah saya. Karena saya Ketua Dewan Pembina, di atas. Kalau kamu di Dewan Penasihat Gerindra, berarti kamu di bawah saya. Saya tidak ingin.”

Dia bilang, “Begini, pak Prabowo, rakyat saya banyak yang belum pintar. Hanya dengan bergabung bersama bapak mereka yakin bahwa sekarang sudah tidak ada permusuhan, sekarang kita sudah berdamai, sekarang waktunya kita bangun masa depan rakyat.”

Saya renungkan, dan saya katakan, “Ya sudah. Kalau itu kehendakmu, kalau itu keputusanmu, tentunya saya merasa terhormat kalau kau bergabung di partai saya.”

Dan alhasil mereka bergabung. Pada saat Pemilu selanjutnya, Pilkada selanjutnya, Pileg selanjutnya, kampanye di Aceh saya berdiri satu panggung dengan mantan Panglima GAM. Kita berdiri di panggung bersama, kita berkampanye bersama. Sungguh dalam hati saya, mungkin ini peristiwa jarang terjadi dalam sejarah, bahkan di sejarah dunia.

Pada suatu saat, kita berada di satu daerah basisnya GAM. Saya mengatakan, “Saya mantan Komandan Jenderal KOPASSUS. Kalau dalam pelaksanaan tugas kami di masa lampau ada anggota KOPASSUS yang bertindak salah di Aceh, saya minta maaf.”

Langsung, mikrofon diambil dari tangan saya oleh pak Muzakir Manaf. Dia mengatakan, “Tidak pak Prabowo minta maaf. Kami tahu pak Prabowo tidak pernah berbuat salah di Aceh. Kami memandang pak Prabowo tidak perlu minta maaf sama sekali”, dan pada waktu itu massa yang hadir bersorak-sorai.

Saya terharu. Saya merasakan tetes air mata saya keluar. Inilah peristiwa yang jarang terjadi. Tapi ini saya mau ceritakan kepada saudara-saudara.

Saya ingin ceritakan, ada kalanya musuh kita, lawan kita, harus kita hormati. Karena sering musuh dan lawan kita, juga pendekar, juga prajurit, juga ksatria, pemberani dan pemimpin yang gagah. Dan, lawan kita bisa menjadi kawan kita, walau ini mungkin cerita yang jarang terjadi.

Ada juga cerita yang ingin saya sampaikan, pengalaman saat saya sudah menjadi Ketua Dewan Pembina, dan Ketua Umum Partai GERINDRA. Suatu saat ada rombongan yang minta ketemu saya dari Papua. Rombongan ini terdiri dari kurang lebih 10 pemuda dan pemudi dari Papua. Yang memimpin rombongan Ketua DPD Gerindra Papua, ibu Yani.

Rombongan duduk di ruang makan saya di Hambalang. Saat kita makan siang bersama, masing-masing memperkenalkan diri.

Perkenalan mulai dari sebelah kiri saya, keliling meja sampai yang terakhir ada seorang pemuda di sebelah kanan saya. Ia memperkenalkan dirinya, “Nama saya Akila Wenda.”

Saya memperhatikan, nama akhirnya Wenda. Saya teringat ketika saya tugas hampir 20 tahun yang lalu, ada seorang Panglima OPM yang punya nama akhir yang sama. Namanya Mathias Wenda.

Saya tanyakan, “Apakah kamu ada hubungan dengan Mathias Wenda?”

Dia jawab, tersipu-sipu, “Bapak, itu orang tua saya.”

Mendengar itu, saya sampaikan, “Sampaikan salam hormat saya.”

Kita boleh berseberangan, tapi kita harus selalu berkomunikasi. Kita harus mencari jalan keluar dari setiap pertikaian. Saya seorang prajurit, saya seorang militer. Sebagai seorang mantan panglima, saya sering operasi militer di berbagai tempat.

Saya bisa memimpin operasi tempur, tetapi saya berkeyakinan jalan terbaik adalah yang tanpa kekerasan. Jalan terbaik adalah menghindari perang.

Kita harus siap perang, kalau kita tidak siap perang kita akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain yang kuat. Tapi, kalau kita bisa negosiasi, kalau kita bisa berunding, kalau kita bisa cari titik-titik pertemuan, kalau kita bisa meninggalkan kesalahan masa lalu, membangun masa depan yang lebih baik, kita harus berusaha. Itu keyakinan saya.

Akhirnya, saya merasa gembira, ada putranya mantan lawan saya mau gabung di Partai GERINDRA. Karena, saya ingin partai yang saya pimpin menjadi rumah besar untuk semua suku, semua aliran, semua agama. Janganlah kita ambil posisi yang terlalu ekstrim, terlalu keras. Posisi kita, sebaiknya adalah selalu jalan tengah. Posisi yang selalu kompromi, saling menghormati, bila perlu saling mengalah demi kebaikan yang lebih besar.

Saya ingat, cerita Hideyoshi dengan Tokugawa sebelum pertempuran yang akhirnya mereka bekerjasama. Saya ingat Abraham Lincoln mengajak lawannya puluhan tahun William Seward masuk kabinetnya. Dan saya ingat, Mao mengajak lawannya bergabung jadi wakilnya untuk bersama-sama membentuk Republik Rakyat Tiongkok.

Dan akhirnya, saya cukup bangga. Saya pernah berseberangan dengan pak Joko Widodo. Tapi demi kepentingan bangsa, kepentingan rakyat, persatuan nasional, ketenangan, perdamaian, rasa rukun, dan demi menjaga rasa kekeluargaan saya bergabung dengan beliau.

Demikian sebagian dari cerita pengalaman yang ingin saya sampaikan kepada semua anak-anak muda harapan bangsa. Kalian harus menjadi pemimpin-pemimpin yang lebih baik. Kalian harus menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, karena mencintai rakyat.

Saya ingat kata-kata beberapa yang saya anggap orang-orang arif yang mempengaruhi pandangan saya dalam bermasyarakat dan bernegara. Diantaranya, Cak Noer, mantan Gubernur Jawa timur. Ia pernah berkata, “Prabowo tugas pemimpin sangat sederhana yaitu pemimpin itu harus bekerja agar wong cilik iso gemuyu.”

Itu arti yang sangat dalam. Kalau orang miskin bisa tertawa, berarti dia bahagia. Berarti ada jalan keluar dari kemiskinan dan penderitaan mereka.

Kemudian salah satu tokoh yang saya juga kagumi dan hormati, Brigadir Jenderal TNI Dr. Benedictus Mboi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur. Ia menerima penghargaan tertinggi di Republik Indonesia yaitu Bintang Sakti untuk keberanian luar biasa di medan pertempuran. Ia terjun dalam operasi pembebasan di Irian Jaya.

Pak Ben Mboi pernah mengatakan, “Prabowo, menjadi pemimpin itu sebetulnya cukup sederhana. Love your people, use your common sense. Cintai rakyatmu, gunakan akal sehatmu.” Inilah yang saya selalu bawa sampai sekarang.

Source: https://prabowosubianto.com/ada-kalanya-musuh-dan-lawan-harus-kita-hormati/