Prabowo Subianto Tutup 290 BUMN dan Hemat Biaya Rp50 Triliun
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan pengumuman mengejutkan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI di Jakarta. Ia menyebut bahwa sejak awal pemerintahannya, telah ditutup sebanyak 290 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dianggap tidak produktif.
Menurut Prabowo, langkah penutupan ini dapat menghemat biaya operasional hingga mencapai Rp50 triliun. Biaya-biaya yang berhasil dihemat tersebut meliputi gaji direksi, biaya perjalanan dinas, sewa gedung, dan sewa mobil.
Target Prabowo untuk Tutup 750 BUMN Lagi Hingga Tahun 2026
Tak berhenti sampai di situ, Prabowo juga menetapkan target ambisius untuk menutup 750 BUMN lain yang dinilai tidak produktif hingga akhir tahun 2026. Presiden berharap bahwa jumlah BUMN yang beroperasi akan maksimal hanya 300 perusahaan saja.
“Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat akan kita pertahankan. Ini mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia,” ungkap Prabowo dengan tegas.
Prabowo melihat penghematan yang besar ini sebagai peluang untuk memanfaatkannya dalam bidang lain, seperti renovasi sekolah dan pembangunan puskesmas. Dia menekankan bahwa dengan Rp50 triliun yang berhasil dihemat, banyak program kesejahteraan rakyat yang dapat diwujudkan.
Mengusut Jajaran Direksi BUMN 30 Tahun Terakhir
Selain itu, Prabowo juga memberikan wacana untuk membentuk badan ad hoc khusus yang bertugas untuk menyelidiki kinerja jajaran direksi BUMN dalam periode 30 tahun terakhir. Ia berpendapat bahwa inisiatif ini mungkin diperlukan untuk menegakkan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan BUMN.
Di akhir pidato, Prabowo menyatakan bahwa keputusan terkait langkah-langkah selanjutnya akan diserahkan kepada wakil rakyat. Dia berjanji untuk selalu berkoordinasi dengan DPR dan meminta masukan dari mereka terkait rencana restrukturisasi BUMN yang begitu ambisius.












