Ketimpangan Ekspor dan Budidaya Benih Lobster: Sorotan Komisi IV DPR RI

Sumail Abdullah, Anggota Komisi IV DPR RI, menyoroti kecenderungan pelaku usaha yang lebih memilih mengekspor benih bening lobster (BBL) dibanding mengembangkan budidaya di dalam negeri. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama kelompok pembudidaya lobster, Sumail mengungkapkan bahwa wilayah selatan yang diwakilinya merupakan salah satu sentra produksi benih lobster. Namun, ia melihat adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan budidaya domestik dengan dorongan ekspor yang terus meningkat.

Menurut Sumail, kebijakan pemerintah seharusnya tidak hanya berorientasi pada ekspor, tetapi juga perlu mendorong peningkatan nilai tambah melalui penguatan budidaya di dalam negeri. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas lobster sebelum dipasarkan ke tingkat global. Ia juga menjelaskan perbedaan nilai ekonomi antara benih lobster dan lobster hasil budidaya, dimana harga benih lobster jauh lebih rendah dibandingkan harga ekspor lobster.

Meskipun demikian, Sumail mengakui bahwa budidaya lobster di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi waktu produksi yang lebih lama dibandingkan dengan negara seperti Vietnam. Perbedaan ekosistem juga menjadi faktor yang memengaruhi waktu produksi lobster di Indonesia. Hal ini membuat budidaya lobster dalam negeri kurang kompetitif dibandingkan dengan negara lain, sehingga lebih banyak memenuhi pasar domestik.

Sumail menegaskan bahwa aspirasi nelayan dan pembudidaya akan menjadi pertimbangan DPR RI dalam merumuskan kebijakan bersama pemerintah. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekspor dan penguatan budidaya nasional. Masukan dari semua pihak akan didorong untuk membantu pemerintah menghadirkan kebijakan terbaik demi kesejahteraan masyarakat.

Source link